Senin, 24 Oktober 2016

Lincak Tua


Lincak Tua
Namaku Anisa Putri Lestari. Umurku 11 tahun.
Aku termenung diatas lincak tua didepan rumah. Hal yang selalu kulakukan berulangkali setiap matahari senja mulai tampak jingga. Aku menunggu kehadiran seseorang yang membuat janji akan kembali untuk menemuiku. Tak singkat waktu yang kubuhtuhkan untuk menunggu kedatangannya. Namun begitu aku tak akan pernah lelah untuk menunggunya kembali. Mungkin hari ini, esok dan mungkin hari-hari lainnya.
Bagiku, menunggunya adalah suatu hal yang paling mulia. Aku tak akan pernah berhenti berharap akan kehadirannya disisiku. Aku sadar, hati kecilku mengatakan jika aku membencinya. Namun aku juga sadar, aku sangat merindukannya dan tak seharusnya aku membencinya. Semua manusia pasti mempunyai kesalahan dalam hidupnya. Namun, kesalahan itu akan menjadi besar jika tak berusaha untuk menebusnya. Aku ingin dia datang dan merubah semua kekacauan dalam gubuk reot ini.
Telingaku bergetar. Gendang telingaku bergemang mendengar tawa keras itu. Tawa yang sering aku dengar dan tawa yang berasal dari dalam rumah. Bagiku suara itu sudah tidak asing lagi ditelinga. Pagi, siang, sore bahkan malam sekalipun aku masih selalu mendengarnya.
Itu suara Ibuku. Sejak kepergian Ayah, Ibu jadi berubah. Ibu jadi memiliki banyak kepribadian. Terkadang marah-marah sendiri, nangis, teriak-teriak, lari-lari bahkan yang paling sering kudengar tertawanya yang mampu memecah hiruk-pikuk Pedesaan tempat kami tinggal. Banyak yang bilang Ibu gila, namun bagiku tidak. Bagiku, Ibu tetaplah seorang wanita yang melahirkanku. Yang mengasuhku sejak aku berada di dalam rahimnya. Ibu yang hebat dan Ibu yang sangat aku sayangi. Tak kuperdulikan orang lain menganggapnya apa.
Adzan Magrib berkumandang menggema dalam telinga seluruh penghuni bumi. Ayahku tak jua terlihat kembali. Tak ada tanda-tanda akan kehadirannya. Ini adalah hari yang ke 1800 aku menunggu kehadirannya. Bahkan umurku sekarang sudah menginjak 11 tahun. Aku menunggunya selalu ditempat ini. Diatas lincak tua kesayangannya. Jika ada yang bertanya mengapa selalu lincak tua ini yang aku jadikan tempat untuk menunggunya maka akan aku menjawab, di lincak tua inilah dia berjanji untuk kembali menemuiku. Dan aku selalu menghargai janjinya itu. Lincak tua ini adalah lincak tua kesayangannya. Lima tahun yang lalu, dan juga diatas lincak tua ini Ayah selalu membacakanku dongeng sebagai penghantar tidur dan juga sebagai penghantar kekacauan. Ayah sangat lihai sekali dalam mendongeng. Bahkan dulu aku sempat berfikir bahwa Ayah berasal dari Negeri dongeng saking terpesonanya aku dengan cerita yang dibawakannya. Namun, semua yang didongengkannya kepadaku sekarang justru terjadi sebaliknya pada faktanya. Ayah pergi meninggalkanku dan Ibu. Bahkan sudah lima tahun lamanya ayah tak juga kembali.
1800 hari yang lalu,
“Mengapa kau menangis, Nisa? Apa yang kau tangisi?” Ayah bertanya kepadaku dengan intonasi lembut. Sentuhan lembutnya menyapu rambut kepalaku. Aku terguguk dalam pangkuannya.
Aku tak menjawab. Aku hanya bisa mengguguk sementara lidahku sulit untuk digerakan. Kaku bagai es batu. Bibirku bergetar mengingat hal itu. Hal yang membuatku merasa jika kebahagiaan keluarga hanyalah angin harapan yang tak pernah bisa kurasakan namun sering kudengar.
Setiap hari hanyalah teriakan-teriakan, cacian, makian dan tangisan yang selalu kudengar. Gendang telingaku serasa berlumut mendengar semua itu. Ayah dan Ibu selalu bertengkar tanpa pernah memperdulikanku sebagai putri belia yang masih berusia enam tahun. Jujur, sampai sekarang aku belum tahu apa sesungguhnya yang sering mereka ributkan sampai membuat para tetangga hafal kapan jam-jam keributan itu akan terjadi. Tepat disore hari ketika para suami kembali dari bekerja. Suatu hal yang kuyakini adalah sarver dari semua keributan dirumah ini. Harta. Harta itulah yang selalu menjadi perdebatan.
Kami tidak tergolong dalam kategori keluarga yang berada, kami hanyalah keluarga sederhana yang tak punya apa-apa. Aku yakin itulah masalahnya. Ibu selalu menuntut lebih kepada Ayah, sedangkan Ayah dengan modal ijaza SD yang dimilikinya tak mampu mendapatkan pekerjaan yang layak selain menjadi kuli panggul dan juga buruh serabutan. Bahkan jika tidak ada pekerjaan Ayah terkadang menjadi pemulung sampah.
“Mengapa Ayah selalu bertengkar dengan Ibu?” Tanyaku polos. Bibirku bergetar terisak dengan jeritan batinku sendiri.
Ayah tersenyum kecil. “Tidak ada pertengkaran antara Ayah dan Ibu. Semuanya baik-baik saja. Apa yang kau lihat itu hanyalah sebuah ujian rumah tangga yang diberikan Tuhan untuk umatnya. Kau tak usah memikirkannya, karena yang harus kau fikirkan hanyalah sekolah dan belajar yang rajin agar kelak kau menjadi orang yang sukses tidak seperti Ayahmu ini.” Tuturnya. Senyum tulusnya memberikan sensasi damai bagi hatiku yang kacau.
Saat itu aku hanya bisa mengguguk sementara di dalam rumah masih kudengar Ibu ngomel-ngomel sendiri gak jelas. Dengan dongengan Ayah berharap aku lupa dengan semua pertengkaran yang baru saja kusaksikan. Namun sulit untukku melupakan hal itu. Hal yang selalu berulangkali terjadi. Bahkan, sisa-sisa pertengkaran itu masih bisa kulihat. Lihat saja, sendok, wajan, panci, dan semua alat dapur lainnya terlihat berhamburan diatas tanah liat lantai rumah kami. Ibu yang selalu mempora-porandakan rumah kecil ini. Bahkan mungkin jika aku sebuah barang Ibu juga akan melemparku layaknya serpihan-serpihan tembaga itu. Memang tak ada yang melemparku, namun dari semua kejadian yang kulihat membuat jiwaku berkeping dan berantakan seperti peralatan dapur.
Ayah, Ayah yang selalu bisa membuatku tenang. Beliau yang selalu merangkulku saat aku tersendu. Bahkan beliau juga yang selalu memelukku dan menenangkan jiwaku dengan kalimat-kalimat indahnya. Aku tahu, kalimat-kalimat itu hanyalah penghibur agar aku tak menyimpan kejadiaan-kejadian itu di dalam memoriku. Namun salah, kejadian itu justru tertanam permanen di dalam ingatanku.
Rasa bersalah atas semua yang terjadi membuat Ayah jadi sering melamun. Ingin ia menyudahi semua ini, namun tidak bisa. Tak semudah itu. Ayah ingin tetap bersamaku, dan Ayah juga masih menginginkan keluarga kami harmonis kembali seperti dulu. Namun entah mengapa harapan itu serasa terlampau jauh dari segala kenyataan. Ibu yang selalu memulai pertengkaran itu. Aku pun tak tahu ada apa dengan Ibu. Ibu berubah. Ibu selalu ngomel ketika Ayah baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah. Pulang kerja. Apalagi jika Ayah pulang dengan tangan hampa, kosong.
Aku tak tahu siapa yang harus kubenci. Apa aku harus menyalahkan Ibu? Atau justru aku harus membenci Ayah yang sudah meninggalkan kami? Atau, Tuhan yang seharusnya kusalahkan dari semua cobaan yang diturunkannya pada keluarga kami? Aku tak tahu. Aku bingung. Dan aku hancur.
Semua harapanku. Semua impianku sirna seiring tergerusnya luka lara yang mendera jiwa kecilku. Aku teringat sesuatu. Dulu, sewaktu Ayah dan Ibu bertengkar aku pernah mendengar kata ‘CERAI’ dari mulut Ayah. Dan kata itulah yang menjadi pengakhir Ayah mengucapkan kata sebelum akhirnya beliau pergi. Meninggalkan aku dan Ibu. Sejak kepergian Ayah semuanya jdi berubah. Kehidupan Ibu menjadi tak jelas. Gelap. Ibu tak membiayai sekolahku yang saat itu baru duduk di bangku kelas satu SD. Untuk dua sampai lima bulan Ibu masih sanggup bertahan, namun setelahnya semuanya berubah total.
Rumah kami beralih fungsi menjadi sarang laki-laki yang keluar masuk se-enaknya saja. Selalu seperti itu sampai pagi tiba. Aku, aku yang selalu membersihkan kuntung-kuntung rokok sisa semalam. Aku tak tahu apa yang Ibu lakukan dengan pria-pria itu. Aku masih sangat polos untuk mengetahuinya. Namun, setiap pagi kondisi rumah selalu berantakan dan sisa-sisa rokok bertebaran dimana-mana. Bahkan bau asapnya pun masih bisa kurasakan. Selalu seperti itu sampai satu tahun lebih dan Ibu kembali berubah.
Ibu jadi sering melamun, jarang makan, dan tak mau berbicara. Hanya diam. Aku khawatir dengan keadaan Ibu yang seperti ini. Aku takut. Aku tak tahu harus meminta pertolongan dengan siapa dan dimana. Aku bingung. Beras dalam tungku semakin berkurang. Dulu, sewaktu Ayah masih ada meskipun sedikit tungku itu selalu diisi dengan beras setiap harinya. Namun sekarang sebaliknya.
Dua bulan kemudian Ibu kembali berubah. Aneh. Yang sebelunya pendiem jarang bicara kini jadi frontal. Ibu jadi sering tertawa-tawa sendiri, ngomong sendiri, menjerit tiba-tiba dan menangis sendu tanpa sebab. Aku kasihan sekali melihat keadaan Ibu yang seperti ini. Aku tak tega. Setiap hari airmataku harus terkuras melihat keadaan Ibu yang semakin hari justru semakin memburuk. Dalam setiap tangisannya aku bisa mengartikan sebuah penyesalan yang sangat dalam.
Buruknya, sampai saat ini, sudah lebih dari satu tahun kondisi Ibu masih sama. Malah semakin buruk. Kesehatannya menjadi terganggu. Sering sakit. Aku tak tahu sampai kapan semuanya ini akan berakhir. Mungkin sampai ajal tiba yang akan mengakhirinya.
Dua tahun kemudian,
Saat ini, aku masih setia menunggu Ayah kembali. Setiap pagi lincak tua kesayangan Ayah ini aku bersihkan dan akan kupakai untuk menunggunya ketika langit senja mulai tampak jingga. Tunggu, ada yang mengganggu pandanganku kali ini. Pandanganku terpaku dengan sosok yang berdiri gagah didepan sana. Pandanganku tak seberapa jelas. Remang-remang. Mataku masih terganjal dengan lebaman pada pelopak mata akibat menangis. Sisa-sisa tangisan kemarin masih sangat kurasakan. Aku belum bisa melihat dengan jelas. Aku melihat bola matanya yang bersinar. Aku mengenali sorotan mata itu. Ayahku.
AYAAAHHHH.......
Teriakanku memecah kesunyian. Ayahku kembali. Akhirnya, penantian lamaku ini menemui titik ujung. Entah harus bagaimana aku meluapkan kebahagiaan ini. Yang pasti aku sangat bahagia sekali. Ayah tampak bersih dan segar. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Ayah banyak sekali kemajuan. Ayah merangkulku dengan lembut. Aku ingat sekali dengan pelukan ini. Pelukan lembut untuk menenangkan jiwaku saat itu. Airmataku mengalir. Aku tak tahu ini airmata bahagia atau kesedihan. Rasanya airmata ini sudah habis terkuras kemarin. Ayah terlambat. Ibu sudah tidak adalagi di dunia ini. Ibu sudah meninggal. Keadaannya yang semakin memburuk membuat Ibu tak mampu bertahan. Hanya satu pesannya untukku, yaitu ‘permintaaan maaf untuk Ayah’.
Hanya sebuah pusara milik Ibu yang bisa Ayah lihat. Aku mengenakan jilbab putih duduk disebelah Ayah dihadapan pusara Ibu. Ayah membacakan surat Al-Quran untuk mendoakan Ibu di sana. Semoga Ibu mendapatkan tempat terindah. AMIN!

Sabtu, 15 Oktober 2016

Puisi Untuk Ayah

Ayah
Masih terlukis dalam benakku kehadiranmu
Masih terdengar ucapan-ucapan nasehat ditelingkau
Dan semua tentang kenangan kita di masa lau
dulu tawaku adalah bagian dari tawamu
Setiap tangisku adalah beban Mu

Ayah, engkau adalah pembangkit semangatku
Tetesan keringat ditubuhmu semua demi masadepanku
hingga kini dekapan pelukmu masih kurasa
Kerinduan-kerinduan bersamamu kini hanyalah kenangan
Ketegaran yang kau ajarkan membuatku bertahan kini

Ku urungkan semua rasa rindu di dalam hatiku
Kepergianmu membuat keadaan tak lagi sama
Tak adalagi cengkraman canda tawa
Tak adalagi tempat untukku berbagi

Ayah, andai engkau dapat mendengar isi hatiku
Aku ingin agar kita dapat bertemu meskipun hanya sekali
Doa-doaku semoga engkau selalu damai di alam sana
Salam rinduku Ayah

#Anak yang merindukanmu

Jumat, 14 Oktober 2016

Tawa dan Tangis

Tawa dan Tangis
Aku pernah tertawa, dan aku juga pernah menangis. Bagiku tertawa dan menangis adalah satu kesatuan yang gak bisa dipisahkan. Setiap ada tawa pasti akan ada tangis. Hari ini, hari ini aku menangis. Menangis karena untuk kesekian kalinya aku gagal. Gagal meloloskan Novel karyaku sendiri di Penerbit mayor.
Aku tak tahu akan pertanda apa ini. Beberapakali di tolak dari dua karya yang kukirimkan. Aku memang tak pandai dalam merangkai kata pada kalimat-kalimat dalam novelku. Aku bukan ahli Sastra yang pandai membuat cerita menjadi drama. Meskipun begitu aku juga punya cita-cita. Aku ingin menerbitkan karya yang diakui kualitasnya.
Aku tak tahu apa aku harus terus maju atau bergerak mundur. Aku tak punya banyak teman untuk diajak berbagi. Bukan berati aku tak memiliki teman. Banyak sekali teman dan juga sahat. Namun dari mereka tidak ada yang memiliki visi dan misi yang sama sehingga nyambung untuk diajak saring.
Aku sedih, aku tak tahu harus kemana mengadu. Aku jauh dari orangtua. Aku merantau jauh ke Jogja untuk menuntut ilmu. Mengajar semua impianku. Namun saat ini aku bingung. Bagaimana aku meminta pendapat kepada oranglain terhadap karyaku? Sahabatku? Mereka baru membaca dua lembar saja sudah tertidur.
Saat ini aku hanya berharap keajaiban datang. Aku berharap Tuhan menjawab semua doa-doaku. Kerjakerasku dan juga tekadku. Aku yakin Tuhan maha adil. Hanya satu inginku, memberikan Karya yang bisa dikenang dan bermanfaat bagi orang banyak meski aku sudah tak berada di dalam Galaxi ini. Aku ingin memberikan kebanggaan bagi kedua orangtuaku khususnya Ibu. Ibu yang sangat aku sayangi. Ibu, Ibu, Ibu dan Ibu.

Jumat, 07 Oktober 2016

SEMUANYA SERBA TERDUGA

SEMUANYA SERBA TERDUGA
Banyak sekali kejadian yang pernah kita alami membuat kita sadar akan kebesaran Tuhan. Dan terkadang kita juga tidak sadar bahwa ternyata setiap kejadian yang kita alami adalah sebuah kejadian yang Tuhan berikan kepada kita. Dan dari setiap kejadian pasti ada sebuah pengalaman. Tuhan selalu memberikan balasan dari setiap hal yang kita lakukan. Baik buruk mau pun baik.
Sebenarnya jika kita cermati dengat baik, semua kejadian di dunia ini sudah sangat terduga. Jadi tidak ada yang tidak terduga. Semuanya sudah tercantum di dalam kitap-kitap atau ajaran-ajaran dari setiap kepercayaan kita masing-masing. Semua sudah tercatat dengan jelas "bahwa setiap perbuatan pasti akan mendapat balasan. Jika kita menebar benih jagung maka panen yang akan didapat pun berupa benih jagung." Itu artinya, jika kita menanam benih kebaikan maka akan berupa kebaikan juga balasan yang kita dapat. Begitupun sebaliknya.
So, semuanya sudah jangat jelas bukan? Semuanya sudah bisa kita tahu dan sudah sangat terduga. Cobalah kau tanam bibit kebaikan agar suatu saat nanti kau mendapat balasan berupa kebaikan jua.
Dan ingat! Teruslah berjalan lurus dan jangan pernah berfikir untuk keluar dari jalur, karena jalur yang sudah ditentukan itu adalah jalur yang akan menuntunmu pada PINTU SURGA.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Bapak

“Ya ndak boleh gitu. Itu namanya serakah. Kamu ndak bisa memiliki sesuatu dua sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Harus ada yang terlebih dulu kamu dahulukan.” Edi mengangguk kalem. Wajah polosnya membuat Suparman tersenyum.
“Le, Negara kita ini sedang menghadapi krisis moneter dan ekonomi. Kamu, sebagai calon generasi bangsa harus bisa membangun Negera ini agar jauh lebih baik lagi. Kamu ndak boleh mengikuti hal-hal yang menyimpang seperti yang dilakukan orang-orang disana. Kamu harus jadi panutan. Kamu harus jadi contoh.” Pesan Suparman untuk putranya. Suparman mulai menyenderkan pinggangnya pada batang pisang.
“Tapi gimana caranya Pak? Kita kan ndak punya uang. Kita miskin.”
“Hoalah Le, Le, kamu itu ya kok lucu. Uang itu bukan segalanya. Yang paling penting tu Ilmu. Ilmu lebih berharga dari uang. Kamu lihat Pak Soekarno sama Pak Soeharto, mereka apa punya uang, ndak Le. Mereka jadi pemimpin karena mereka punya Ilmu. Mereka pinter. Jadi, kalo kamu pengin jadi pemimpin, jadilah orang pinter.”
“Berati aku harus terus sekolah dong Pak?”
“Yo jelas. Kamu harus terus sekolah sampai jadi Sarjana. Sarjanah yang berbobot. Tapi ingat Le, jangan sombong. Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin tua semakin menunduk, dekat dengan tanah. Sadar jika akhirnya pasti akan kembali ke tanah. Jangan malah ndangak. Ndak boleh.” 

Kamis, 29 September 2016

Kau Puisi


Kebimbangan
Disini aku yang mencintaimu,
Aku Yang Mengharapkanmu, dan
Aku Yang Mendambamu.
Kamu Jauh Di Sana. Tak Dekat Jarak Dan Waktu Untuk Kita Bertemu.
Jika Kita Dipertemukan Oleh Waktu, Maka Aku Akan Mengatakan Kepada-Mu.
“Sebagai Laki-Laki Yang Sangat Mencintaimu Aku Hanya Ingin Kamu Mengizinkan Aku Untuk Menitipkan Rasa Ini Di Hatimu Jika Kamu Harus Bahagia Bersamanya. Jika Aku Pilihanmu Bantulah Aku Untuk Menjaga Dan Mempertahankan Rasa Ini.”

Pery Pagi Hari
Pagi Ini Aku Meneteskan Air Mata,
Setetes Air Mata Yang Mungkin Tak Berguna, dan
Setetes Air Mata Yang Mungkin Hanya Rekayasa.
Namun, Sejujurnya Ini Adalah Air Mata Cinta,
Air Mata Bahagia Karena Bisa Bersamamu Wahai Kekasih Ku.

LDR
Saat Aku Mulai Memejamkan Mata Hanya Bayanganmu Yang Bisa Aku Lihat,
Saat Aku Mulai Terlelap Masih Bayanganmu Yang Ada Dipikiran Ku,
Saat Aku Kembali Terbangun Dan Gak Bisa Tidur Lagi Pun Hanya Dirimu Orang Pertama Yang Aku Cari Dan Aku Harapkan.
Dirimu Yang Jauh Demi Sebuah Cita-Cita.

Penyesalan
Hati Ini Memang Pernah Ada Di Hati Mu,
Hati Ini Memang Pernah Menjadi Bagian Dari Hati Mu,
Hati Ini Juga Yang Pernah Melukai Hati Mu.
Namun, Hati Ini Juga Yang Akan Menjaga Dan Berusaha Membuatmu Bahagia.
Namun, Sesungguhnya Hati Ini Tidak Akan Memiliki Arti Jika Hanya Berjalan Sendiri.





Perbedaan
Alasan klasih sebuah perpisahan adalah perbedaan.
Kenapa Demikian?
Kenapa Perbedaan Jadi Masalah?
Haruskah Perbedaan?
Bukankah Tuhan Menciptakan Manusia Semuanya Sama?
Yang Membedakan Hanya Jenis Kelamin Saja Bukan?
Kasihan! Kebahagiaan Dia Disana Harus Hancur Karena Ketidak Adilan Dunia Nyata.
Hilang Bagai Debu Yang Terhempas Kencangnya Angin Topan Terbawa Bersama Puing-Puing Dan Dedaunan Yang Terbang Meninggalkan Bumi.
Entah Dimana Angin Akan Menurunkan Daun Dan Debu Itu.

Pagi Ini
Terlihat Cerah Cuaca Di Pagi Ini,
Udaranya Yang Segar Mampu Mendamaikan Hati,
Pantulan Sinar Mentari Yang Menari-Nari Di Atas Embun Pagi
Seakan Mengisyaratkan Bahwa Dunia Ini Hanya Milik Kita Berdua.
Tulus
Kuciptakan Syair Puisi Untukmu,
Bukan Syair Indah,
Bukan Juga Syair Yang Tercipta Dari Sastrawan. Tapi,
Ini Sebuah Syair Yang Tercipta Dari Hati Yang Tulus Mencintaimu.

Peri Dipagi Hari


Peri Dipagi Hari
Satu bulan setelah pengumuman hasil SMPTN. Tak ada kata liburan untuk Edi. Satu bulan bekerja keras banting tulang bangun pagi tidur malam. Berangkat subuh pulang malam. Hasil yang dia dapat tidak membuat kecewa. Dia bisa menyisikan uang hasil kerja kerasnya sebagai buruh serabutan. Meskipun tak banyak. Dan dia juga sudah bisa membeli hape dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Sekarang dia punya HP. Cieee.... Punya H-P.
“Hey, apa kabar?” Tiba-tiba terdengar suara merdu dari balik tubuh remaja ini. Entah siapa itu dia di sana. Namun, suara merdunya mampu membuat hati gundah ini terasa damai. Edi pejamkan mata dan membayangkan sosok bidadari cantik datang menemuinya di pagi hari.
Salah tingkah dia setelah mengetahui sosok yang berada di belakangnya itu. Bukan bidadari. Bukan juga seorang putri. Namun ia adalah Peri. Peri dipagi hari. Ia adalah Suci. Entah makanan apa yang baru ia makan sampai amnesia datang ke rumah kecil itu. Tak biasanya ada seorang gadis yang mau datang kesana.
“Kamu kok ndak bilang kalo mau kesini?” Tanyanya gugup. Ia sangat terkejut dengan kehadiran Suci. Namun hatinya bahagia.
Suci tertawa kecil. Entah apa yang ia tertawakan? Mungkin karena melihhat expresi pria dihadapannya yang sangat gugup melihat tiba-tiba ia datang ke rumah. Ini pertamakalinya ada gadis yang datang kerumah itu. Hanya Ova yang sering datang. huh, namun sayang, dia laki-laki tulen.
“Gimana caranya aku bilang ke kamu? Melalui telepon kaleng? Atau melalui telepati hati? Atau dengan berteriak dari rumahku sampai kerumahmu? Bisa dikira orang gila aku.” Balasnya tersenyum kecil. Edi memutar bola matanya searah jarum jam.
“Heheheee.... Iya-ya. Aku lupa.” Dia cengar-cengir salahtingkah.
“Oya, denger-denger ada yang udah punya hape nih? Jadi penasaran pengin lihat.” Sindirnya mesam-mesem menggoda. Edi tersenyum malu-malu.
“Kamu kok tau?”
“Cie-cieeee... Yang udah punya hape, gayalah yaaaa.” Godanya sambil mencubit perut pria dihadapannya itu. Edi berusaha menghindari namun Suci tetap saja menang dan berhasil mencubit perutnya.
Akhirnya mereka tukeran nomor hape lalu mereka ngobrol-ngobrol dengan canda tawa. Dari dalam, Ibu, Suparmi membawakan dua cangkir teh hangat untuk Putranya dan Suci. Tamunya.
Dengan menggunakan sepeda Ontel milik sang Bapak, Edi membawa Suci pergi ke sungai yang tidak jauh dari rumah. Suci duduk diboncengan belakang dan Edi yang mengemudikan transortasi sederhana itu. Mencari udara segar dan rekreasi adalah tujuan utamanya. Apalagi tempat rekreasi orang Kampung selain sungai? Mall? Masuk saja mungkin nyasar. Kolam renang? Lebih baik untuk beli ikan asin daripada untuk bayar tiket masuk kolam renang. Orang kampung seperti dia ini lebih baik digunakan untuk makan daripada untuk rekreasi. Menurutnya setiap hari sudah rekreasi. Di sawah, di ladang, ngobrol dengan kambing dan ke sungai. Tak perlu mahal dan tak perlu hidup boros. “Lawan Hidup Boros Sekarang Juga.”
Roda terus berputar seiring pedal yang terus saja diayuh. Rantai memutar pada gir dan roda berputar menyisiri jalanan terjal menuju sungai. Berat Edi rasakan saat jalanan menanjak. Namun, tak akan terasa berat jika orang spesial yang dibawa. Meskipun keringat menggumpal bagai jagung. Meskipun nafas ngos-ngosan. Meskipun lutut rasanya mau copot. Meskipun rasanya sudah tak karuan. Jika hati yang berbicara maka semua itu sirna. Hanya bahagia yang dapat dirasakan. Cinta membuat semuanya berubah.
Gadis kaya ini bukannya jijik atau jengkel dengan tempat seperti ini, namun justru dia terlihat sangat bahagia. Tak seperti gadis lain yang seperti dia, terlahir sebagai anak orang kaya. Mereka tidak mau datang ketempat-tempat seperti ini. Berdebu. Panas. Dan jalannya jelek. Beda dengan gadis ini. Dia memang beda. Dia baik. Hum, kenapa jadi memuji-muji gadis ini?
“Aku ndak nyangka ternyata badanmu ini berat juga.” Godanya. Bermaksut membuat suasana jadi lebih hidup. Bukannya membalas Suci justru cengingisan. Sepertinya Suci berhasil memenangkannya. Dia berhasil membuat Edi menderita.
“Ahh, masak gitu aja gak kuat. Kan kamu cowok, jadi harus kuat dong.” Balasnya tersenyum nakal.
“Ya kalo aku sih kuat-kuat aja. Tapi aku masih ndak percaya aja badanmu ini berat banget. Keberatan dosa kayaknya ini.” Edi membalas. Tertawa. Sekarang gantian Edi yang cengingisan sambil terus mengayuh sepeda menembus hamparan ilalang dengan bunga-bunga indah yang menari-nari bersama iringan merdu suara burung kutilang di pagi hari.
“Bukan aku yang banyak dosa, tapi kamu. Aku mah baik. Sangat baik, hehee.” Suci mulai berani bersikap manja kepada pria itu. Ya-Tuhan, sungguh cantik sekali gadis ini. Ingin sekali aku memanjakannya. Tak berdaya aku saat melihat Suci dengan manjanya merebahkan kepalanya kepunggungku. Fikirnya dalam diam.
Sesampainya mereka di sungai, mereka langsung menuju tempat dimana biasanya Edi memancing dengan Bapaknya. Suasana pagi dan udara yang masih segar, ditambah sura kicauan burung pipit menambah suasana jadi indah. Membuat mereka hanyut dalam dunia keromantisan. Gemericik air yang mengalir menjadi sebuah biola mengiringi sang burung pipit bernyanyi. Air dibawah wana mengalir mencari telaga. Ia seperti mencari labuhan terakhir. Seperti Edi. Edi yang ingin berlabuh dihati Suci. Namun itu mustahil. Air jernih terus mengalir membuat hati serasa damai, pikiran tenang, dan jiwa serasa terbang di kayangan.
Edi memajamkan mata dan membayangkan mimpi-mimpinya tercapai dengan lancar. Semua terasa sangat indah. Rasanya dia tak mau lagi terbangun dari lamunan itu. Namun, seperti ada air hujan yang turun mengenai wajahnya. Air itu. Dia membuyarkan lamunan indah Edi. Oh, ternyata ini bukan air hujan atau air mata. Namun ini adalah air sungai yang dengan sengaja Suci cipratkan ke wajah Edi. Nampaknya ia ingin main-main dengan pria polos itu. Akhirnya mereka main ciprat-cipratan air disungai. Mereka saling mengejar untuk saling membalas. Terbawa yuvoria kebahagiaan berdua. Tak sadar, mereka berdua telah bergandengan tangan.
Hening.
Pecah setelah tersadar.
Di atas sebuah batu dan dibalik sejuknya udara sore hari di sungai serta suara-suara burung yang berkicau indah seorang pria tampak sendirian merenungi nasib. Dia hanya terdiam sedih. Bagaimana lagi caraku untuk bisa kuliah? Gumamnya. SMPTN gagal. Edi memandang jauh kedepan penuh dengan harapan. Kicauan burung pipit yang dengan lincahnya seolah menjadi sountrack kesedihannya ini. Langit merah di atas sana seolah-olah menjadi saksi atas kegagalan itu. Angin sungai menusuk pori tak terasa begitu berarti dibandingkan dengan sedihnya hati itu. Tak mungkin buruh serabutan bisa kuliah. Dikirnya lagi.
Andai aku anak orang kaya. Andai aku anak pejabat. Andai aku anak pengusaha.
Dalam kesendirian dan dalam renungan itu tiba-tiba saja matanya disibukkan dengan seekor burung yang sibuk melintas dihadapannya. Seekor burung emprit terbang kesana kemari membawa sehelai rumput alang-alang. Apa yang ia lakukan? Semangat sekali burung itu? Mata Edi menyiut dan keningnya berkerut memperhatikan aktivitas burung tersebut. Sungguh, sungguh tak disangka. Ternyata burung kecil itu sedang membangun sangkar. Burung emprit kecil, dengan suara kecil, paruh kecil, sayap kecil, dan kaki yang kecil, tapi dia mampu  membangun sangkar yang begitu besar dengan menggunakan rumput alang-alang yang tergolong rumput berat.
Edi tersenyum.
Kenapa aku lemah? Aku lebih besar dari burung itu. Aku diberi tangan, kaki, pikiran, dan fisik yang sempurna. Kenapa aku harus menyerah dan pesimis? Fikirnya.
Bangkit kembali semangat yang hampir saja sirna bersama dengan harapan yang pupus. Dia yakin, jika burung sekecil itu mampu membangun sangkar yang cukup besar sendirian, kenapa dia tidak? Sebagai manusia yang diberi akal dan fikiran seharusnya yakin di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha. Meskipun itu terlihat mustahil. Namun, itulah kehidupan, sulit untuk ditebak. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Mencoba segala kemungkinan yang diyakini mampu untuk mengubahnya. Tak banyak yang diharapkan oleh remaja polos ini. Dia hanya ingin mengubah sejarah keluarganya agar tidak terulang kembali. Dia hanya ingin orang-orang yang berada disekitarnya tidak bernasib sama dengannya.